IAKN Manado Dorong Teknologi Tepat Guna Biochar untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Kemandirian Masyarakat
MANADO — Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado menggelar Seminar Ilmiah Teknologi Tepat Guna Biochar dan Peran Gereja dalam Pemberdayaan Lingkungan, Rabu (16/9/2026), di Aula IAKN Manado. Mengusung tema “Integrasi Ekoteologi dan Sains Lingkungan: Implementasi Teknologi Tepat Guna Biochar demi Keberlanjutan Ciptaan dan Pemberdayaan Masyarakat,” kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk mempertemukan perspektif keilmuan, teknologi tepat guna, iman, dan kebutuhan masyarakat dalam menjawab persoalan lingkungan. Kegiatan dihadiri civitas akademika IAKN Manado yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung, S.T., M.Pd., bertindak sebagai Keynote Speaker sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa tema seminar relevan dengan berbagai tantangan lingkungan saat ini, seperti persoalan sampah, perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam. Menurutnya, pengembangan teknologi perlu diawali dengan memahami persoalan masyarakat, ketersediaan sumber daya, serta teknologi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lokal.
Rektor juga menekankan bahwa teknologi tepat guna tidak harus mahal, rumit, atau canggih, tetapi harus sesuai dengan konteks lokal, dapat digunakan dan dipelihara masyarakat, serta memanfaatkan bahan yang tersedia. Dalam konteks Sulawesi Utara, hasil pertanian, limbah organik, dan pengetahuan lokal merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber daya bernilai tambah. Gagasan tersebut kemudian diperdalam oleh Prof. Kim Man Gap, Kepala Cabang MG Appropriate Technology Co. Ltd. Laos & Global Network, melalui pengembangan Biochar Manado. Kelapa dipilih sebagai salah satu bahan awal karena mudah ditemukan di Manado, sementara fasilitas pengolahannya dibuat langsung di Manado menggunakan bata dan besi yang tersedia secara lokal.
Dalam pemaparannya, Prof. Kim menunjukkan hasil uji coba pengolahan kelapa menjadi arang. Namun, arang saja belum cukup memberikan manfaat optimal bagi pertanian karena tidak memiliki unsur hara yang cukup bagi tanaman. Pemanfaatannya dapat dikembangkan dengan menggabungkannya bersama kompos untuk mendukung pertanian. Materi juga memperlihatkan siklus pemanfaatan lokal, yaitu kelapa dan sisa pertanian diolah menjadi arang, kemudian dipadukan dengan kompos, sementara sisa panas dari proses tersebut berpotensi dimanfaatkan kembali untuk pengeringan dan pengolahan. Pemanfaatan panas untuk membantu pengolahan kelapa maupun potensi memperoleh sedikit air minum di wilayah kepulauan masih merupakan gagasan yang perlu diuji lebih lanjut di lapangan
Sementara itu, Dr. Peter Auh, Dosen dan Akademisi Methodist Theological University (MTU) Korea, turut memberikan perspektif akademik yang menghubungkan teknologi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran kedua narasumber menjadi bagian dari upaya IAKN Manado memperluas wawasan akademik sekaligus membangun jejaring dan kerja sama internasional dalam bidang teknologi tepat guna, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pelayanan gereja.
Dalam perspektif ekoteologi, Rektor menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dilihat hanya dari sisi teknologi, tetapi juga merupakan tanggung jawab etis, sosial, ekonomi, pendidikan, dan spiritual. Gereja memiliki ruang strategis untuk hadir di tengah persoalan nyata masyarakat, termasuk persoalan sampah, lingkungan, dan ekonomi. Gereja tidak harus menjadi lembaga teknologi, tetapi dapat menjadi komunitas yang mempertemukan manusia, pengetahuan, sumber daya, dan kepedulian, sekaligus berjalan bersama masyarakat dalam upaya menjaga lingkungan dan memberdayakan komunitas.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IAKN Manado dan MG Appropriate Technology Co. Ltd. Kerja sama ini menjadi langkah lanjutan untuk membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat. IAKN Manado berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berkembang melalui penelitian kolaboratif, pelibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, pengembangan model ekopedagogi, serta pengembangan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan desa dan komunitas.